♥ Diary Of The Day ♥
THE DARKEST NIGHTS PRODUCE THE BRIGHTEST STARS
Kamis, 31 Desember 2015
Rabu, 02 September 2015
Wanna knows me? ♥♥♥♥♥♥
Bertya Salama Mentari. Salma.

Rabu, 22 Juli 2015
Thank You for Loving Me Unconditionally
Jumat, 01 Mei 2015
High School
Rabu, 22 April 2015
Kamu suka ngrasa kesepian kayak nggak punya siapa siapa nggak?
Ya udah terusin aja kalau pengen lari sejauh jauhnya terusin aja lihat depan terus, nggak usah nengok lagi, ya. Soalnya aku udah nggak ada di belakang kamu. Kamu nggak nanya aku kenapa kan?
Hellaaaw! Lagi iseng pengen blogging nih, maklumlah ya lagi nganggur nungguin kelulusan haha #ecieeecalonmaba
Balik ke topik awal yup. Pernah ngrasain capek padahal nggak ngapa-ngapain, pengen nangis tapi nggak tau apa yg ditangisin, ngrasa sendiri padahal rame, pernah?
Rabu, 18 Februari 2015
"Try to be a rainbow in someone's cloud"
The problem with people like me is that we care too much.
We break our hearts into pieces and give them away, until they are all gone. And we try to live with the broken hearts and broken souls we are left with.
We sacrifice our own happiness to make others smile. But in the process we lose ourselves.
We extinguish the sparks in our eyes and the fire in our bellies in order to fuel the dreams of others.
We are the people who laugh at the end of every sentence and place a smiley face at the end of every text, to make sure our friends don’t think we are mad when we say “I need to go.”
We are the people with loud thoughts and quiet voices, refusing to speak our minds at the fear of hurting another’s feelings.
We are the people who would give our own life to save a stranger.
The words ‘I’m sorry’ have a home on our lips. Always ready to apologize for something we never did. Because to us, an apology is better than losing the people we care all too much for. The problem with people like me is that we care too much. And the problem with people like me is that, deep down, we really don’t care at all.
We spend all our energy breaking our hearts into pieces and scraping our knees and extinguishing the sparks in our eyes to make other people happy that there is nothing left for ourselves. And when it comes down to it, we really don’t care what happens to us.
So long as everyone else is happy. We care too much about others. And we don’t care about ourselves at all.
Selasa, 30 Desember 2014
When I was growing up
Waktu itu emang kalau ditunggu terasa lama, kalau nggak ditunggu terasa cepet..
"Bukannya emang itu yang kamu pengen biar kamu cepet lepas dari masa SMA mu?"
Desember 2014
Sekarang aku ngrasain ada di masa kelas tiga SMA. Masa yang bener bener aku nantikan dari awal masuk SMA. Anehnya, selama ini aku nggak se-enjoy siswa lainnya yang seneng jadi anak SMA. Tapi kalau diitung-itung 18bulan enjoy 18bulan nggak. Hmmm se-enggaknya better than never ever feel comfort there lool.
Dan pada sisa sisa masa SMA, akhirnya aku ngrasain nyaman jadi siswa SMA. Belum juga ninggalin sekolah, tapi terus keinget dulu dulunya..
Entah aku seakan akan jadi kaya the only one student yang selalu berharap dikeluarin secara terhormat dari sekolah. Atau apapun yang penting pindah sekolah...
Entah juga nggak ngerti kenapa sampe (pernah) nggak ngerti jalan ke sekolah lewat jalan yg berbeda. Abis itu nyasar nyasar nyari gerbang belakang sekolah. Astaga... separah itu
Nyadar banget cuma di masa SMA yang waktu bt di sekolah nangis nangis terus langsung cabut dari sekolah. Dan itu nggak sesekali. Omg! Sometimes I miss that moments..
Di SMA yang udah aku tahan tahan buat nggak ada feel yang lebih lebih sama cowok satu sekolah, eh ternyata.... perasaan emang nggak gampang diajakin kompromi.
Tapi aku ngrasa beruntung, di SMA aku nyanding sama beberapa orang baik yang aku anggap sahabat, yang nggak pernah -saling nikung- kaya yang lagi hitzzz di jaman sekarang. Karena mereka aku jadi kuat. Kuat ngadepin jadi anak SMA.
Finally.. sampe deh dimana masa masa aku kebingungan nyari perguruan tinggi. Banyak orang bilang, aku terlalu serius mikir yang gituan. Bukan tentang gituan aja sih, tapi serius dalam hal apapun. Bahkan hal yang ga perlu dipikir, aku tetep mikir. Katanya sih..
Entah aku nggak ngrasa hal yang sama. Yang aku tau aku serius contra sama yang namanya -gagal-lagi-.
Tapi yang selalu aku inget, jangan sampe ngrasa udah -jadi orang paling serius ataupun paling gede usahanya buat raih impian- Inget diluar sana masih banyak yang lebih lebih..
Mungkin emang nggak semua orang ngrasa dirinya -pernah jatuh-.
Tapi aku pernah, dan aku rasa mereka nggak sepenuhnya ngerti gimana rasanya. Mereka diluar sana cuma bilang 'bangun' terus 'semangat'. Padahal prosesnya nggak semudah menyebut 2 kata itu.
But I promise, I'll always and never stop to try it.
Suatu hari aku bakal kangen semua yang pernah aku lewatin di masa SMAku. Aku bakal selalu menghargai setiap momen baik buruk disana. Buat terus menjaga kepercayaan orang orang disana.
Bismillah, bye 2014! Thankyou for everything till you makes me growing up....